Indonesia: Inflasi Kehilangan Traksi di Juli – UOB
Ekonom Enrico Tanuwidjaja dan Ekonom Junior Agus Santoso di UOB Group mengomentari rilis terbaru angka inflasi di Indonesia.
Kutipan Utama
Inflasi utama Indonesia di bulan Juli mereda ke 3,1% y/y dibandingkan 3,5% di bulan Juni, sebagian besar didukung oleh penurunan komoditas pertanian karena peningkatan produksi dan stok makanan. Penerapan teknologi pertanian dan benih bawang merah dan cabai berproduktivitas tinggi mengangkat produktivitasnya dan mendorong deflasi komoditas tersebut pada bulan Juli.
Inflasi yang lebih rendah di bulan Juli dapat dikaitkan dengan penurunan di sebagian besar subkomponen, kecuali kesehatan dan pendidikan. Sub-komponen terkait makanan mereda ke 1,9% y/y dibandingkan 2,9%, menandai penurunan laju harga terbesar di antara sub-komponen, diikuti oleh transportasi, dan perumahan. Sementara itu, sub komponen pendidikan mencatat kenaikan inflasi sejalan dengan periode tahun ajaran baru.
Inflasi bulan Juli menegaskan kembali bahwa inflasi umum mungkin moderat ke di bawah 3% y/y di kuartal ketiga 2023. Namun, masih ada potensi risiko kenaikan yang signifikan pada harga. Pertama, dampak perubahan iklim yaitu El Nino yang dapat menyebabkan penurunan pasokan barang dan kenaikan harga. Hal itu terlihat dari kenaikan harga komoditas pangan di beberapa daerah. Faktor lainnya adalah risiko kenaikan harga pangan dunia akibat pembatasan ekspor yang dilakukan beberapa eksportir pangan utama antara lain Rusia, India, Thailand, dan Vietnam.